Kesamaan dan Keragaman Budaya

Selamat malam sahabat! Kali ini kita akan mempelajari tentang Antropologi untuk kelas 11. Pada kesempatan ini kita akan mempelajari tentang kebudayaan. Apa Anda mengenal/mengetahui kebudayaan di daerah Anda? Pastinya Anda tahu/kenal dan menyukainya sehingga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai makhluk yang dikaruniai akal, cipta dan rasa, manusia mampu berpikir, berlogika dan berkarya. Oleh karena kelebihan itu, banyak hasil karya diciptakan manusia mulai dari kesenian, rumah, bahasa, benda, dan lain-lain. Kesemua itu menghasilkan kebudayaan. Pada dasarnya setiap daerah mempunyai kebudayaan masing-masing di mana setiap kebudayaan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Situasi ini menjadikan kebudayaan digolongkan menjadi tiga bentuk yaitu kebudayaan lokal, kebudayaan nasional, dan kebudayaan asing. Penggolongan tersebut tentunya digolongkan berdasarkan kacamata Indonesia.

Lalu apa itu kebudayaan? Apa yang dimaksud dengan kebudayaan lokal, nasional, dan asing?

Pengertian Kebudayaan

Sampai saat ini banyak sekali definisi mengenai kebudayaan. Namun, pada dasarnya semua definisi tersebut tidaklah jauh berbeda. Kebudayaan memiliki definisi yang beragam. Banyak ahli yang mencoba membuat definisi kebudayaan tersebut. Penekanannya terletak pada manusia menjalani kehidupan dengan berbagai cara dan tercermin di dalam kehidupan mereka melalui pola tindakan (action) dan kelakuan (behavior).
  • Koentjaraningrat mengatakan bahwa beberapa pakar antropologi terkenal seperti C.C. Wissler (1916), C. Kluckhohn (1941), A. Davis, atau A. Hoebel menjelaskan bahwa tindakan kebudayaan adalah suatu learned behavior, yakni suatu hasil budidaya berupa kebiasaan yang di dapat melalui proses belajar.
  • Koentjaraningrat berikutnya menjelaskan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Lebih lanjut beliau merinci bahwa kata ”kebudayaan” berasal dari kata Sanskerta buddhayah. Buddhayah adalah bentuk jamak dari buddhi. Buddhi memiliki arti budi atau akal.
  • E.B. Tylor (1881) melalui Hari Poerwanto mengatakan bahwa melihat suatu kebudayaan adalah melihat perubahan budaya berdasarkan atas teori evolusi. Menurutnya, kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, adat, dan berbagai kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
  • C. Kluckhohn (1952) melalui Hari Poerwanto mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan pola-pola tingkah laku, baik eksplisit maupun implisit yang diperoleh dan diturunkan melalui simbol yang akhirnya mampu membentuk sesuatu yang khas dari kelompok-kelompok manusia, termasuk perwujudannya dalam benda-benda materi.
Masih banyak pendapat para ahli mengenai definisi kebudayaan yang tidak dapat disebutkan satu persatu di sini.

Apa itu kebudayaan lokal, nasional, dan asing?

Kebudayaan Lokal

Budaya lokal adalah nilai-nilai lokal hasil budi daya masyarakat suatu daerah yang terbentuk secara alami dan diperoleh melalui proses belajar dari waktu ke waktu. Budaya lokal dapat berupa hasil seni, tradisi, pola pikir, atau hukum adat.

Indonesia terdiri atas 33 provinsi, karena itu memiliki banyak kekayaan budaya. Kekayaan budaya tersebut dapat menjadi aset negara yang bermanfaat untuk memperkenalkan Indonesia ke dunia luar, salah satu di antaranya adalah Candi Borobudur. Adat pernikahan secara tradisional juga merupakan salah satu bentuk budaya lokal. Oleh karena itu, jika ada sepasang pengantin yang berasal dari daerah yang berlainan, seringkali mengenakan busana tradisional pernikahan bergantian sesuai dengan busana daerah masing-masing mempelai. Demikian pula acara tradisi upacara pernikahan diadakan dua kali, disesuaikan dengan upacara adat masing-masing mempelai.

Reog Ponorogo merupakan salah satu kebudayaan lokal yang berbentuk tarian tradisional.
(Sumber: Akun Flickr Mr. T in DC, Lisensi: CC BY-ND 2.0)
Bentuk lain dari budaya lokal adalah tarian tradisional. Tarian tradisional di Indonesia awalnya dipertunjukkan untuk peristiwa tertentu seperti panen, kelahiran, pemakaman, dan pernikahan. Saat ini tradisi tersebut ada yang mengalami pergeseran, tarian dipertunjukkan untuk acara komersial. Namun demikian, hal tersebut dapat menjadi salah satu sarana untuk melestarikan budaya lokal, bahkan untuk memperkenalkan budaya lokal ke tingkat yang lebih halus.

Bahasa daerah, pakaian tradisional, folklor, musik tradisional, olahraga tradisional, permainan anak tradisional, kerajinan tangan, bahkan mitos juga merupakan budaya lokal.

Kebudayaan Nasional

Batik
  (Sumber: Akun Flickr Constance Wiebrande
  Lisensi: CC BY-NC-SA 2.0
)
Koentjaraningrat mengatakan bahwa ”kebudayaan nasional” adalah suatu kebudayaan yang didukung oleh sebagian besar warga suatu negara, dan memiliki syarat mutlak bersifat khas dan dibanggakan, serta memberikan identitas terhadap warga. Sifat khas yang dimaksudkan di dalam kebudayaan nasional hanya dapat dimanifestasikan pada unsur budaya bahasa, kesenian, pakaian, dan upacara ritual. Unsur kebudayaan lain bersifat universal sehingga tidak dapat memunculkan sifat khas, seperti teknologi, ekonomi, sistem kemasyarakatan, dan agama.

Budaya nasional Indonesia adalah budaya yang dihasilkan oleh bangsa Indonesia sejak zaman dahulu hingga kini sebagai suatu karya yang dibanggakan yang memiliki kekhasan bangsa Indonesia dan menciptakan jati diri dan identitas bangsa Indonesia yang kuat. Kebudayaan nasional sesungguhnya dapat berupa sumbangan dari kebudayaan lokal. Jadi, sumbangan beberapa kebudayaan lokal tergabung menjadi satu ciri khas yang kemudian menjadi kebudayaan nasional. Batik merupakan salah satu contoh dari kebudayaan lokal yang menjadi kebudayaan nasional dan menjadi pakaian resmi. Saat ini batik telah berkembang hingga ke seluruh wilayah Indonesia dengan corak yang berbeda-beda.

Kebudayaan Asing


Globalisasi terjadi di semua bidang kehidupan. Kebudayaan asing akan semakin mudah memengaruhi budaya lokal. Namun demikian, tidak seluruh budaya asing membawa pengaruh buruk bagi budaya lokal. Kebudayaan asing adalah kebudayaan yang berada di luar wilayah kebudayaan diri.

Salah satu contoh kebudayaan asing yang memberi masukan kebudayaan yang sesuai dengan kepribadian nasional adalah agama. Banyak agama yang masuk ke Indonesia sesuai dengan kepribadian bangsa, sehingga hampir seluruh agama yang masuk ke Indonesia dapat berkembang dengan baik.

Selain itu, salah satu contoh kebudayaan asing yang memberi nilai lebih bagi kebudayaan nasional adalah masuknya teknologi tinggi bagi Indonesia. Teknologi mampu membantu manusia pada segala bidang. Nilai lebih didapatkan karena teknologi asing mampu memberi bantuan bagi keseharian hidup manusia.
Teknologi merupakan kebudayaan asing
  yang memiliki dampak positif maupun negatif
 (Sumber: Akun Flickr amika_san, Lisensi: CC BY-ND 2.0)

Kebudayaan asing tidak selalu memberikan nilai positif bagi kebudayaan nasional. Banyak pula kebudayaan asing yang merugikan kebudayaan nasional. Kebudayaan asing yang membawa pengaruh buruk tersebut mampu menyusup secara perlahan ke dalam tubuh kebudayaan nasional sehingga kerugian baru akan terlihat setelah beberapa waktu. Salah satu contoh kebudayaan asing yang membawa dampak buruk adalah media televisi. Melalui televisi, banyak orang yang terpengaruh cerita yang ada di dalam sinetron sehingga ia terinspirasi untuk melakukan hal yang sama dengan cerita di layar kaca tersebut. Melalui televisi pula kepribadian bangsa dikoyak dengan pemakaian pakaian ketat atau mengenakan pakaian mini. Terlebih lagi dengan adanya internet saat ini yang menjadikan dunia serasa dalam genggaman. Dampak negatif penggunaan internet juga sangat tinggi. Situs-situs yang belum dapat dikonsumsi anak di bawah usia dapat dengan mudah dikonsumsi jika tanpa adanya pengawasan dari orang yang lebih dewasa. Namun dari media televisi atau internet juga terdapat nilai-nilai positif bagi kebudayaan nasional. Dengan kedua media tersebut kita jadi lebih tahu tentang ilmu pengetahuan. Jadi suatu kebudayaan asing tidak selalu berdampak negatif tetapi juga dapat berdampak positif bagi masyarakat.

Cukup sekian dulu materi kita kali ini. Artikel di atas diringkas dari buku-buku BSE yang diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Kemdikbud dan dapat diunduh secara gratis di BSE Kemdikbud.

Buku-buku yang dipakai dalam pembuatan artikel ini adalah:
1. Antropologi : Kelas XI : Untuk SMA dan MA Program Bahasa, Penulis: Dyastriningrum; cetakan tahun 2009.
2. Antropologi Kontekstual : Untuk SMA dan MA Program Bahasa Kelas XI, penulis: Supriyanto; cetakan tahun 2009.

Jika ada pertanyaan, kritik, atau saran silakan dikirim melalui email ke edukasi@anashir.com. Terima kasih.

Sepertinya Anda menggunakan pemblokir iklan (ads blocker).

Dukunglah blog ini dengan mematikan ads blocker di browser jika Anda menggunakannya atau mematikan mode penghematan data di browser opera.

Terima kasih atas dukungannya.

×