Penyajian Data Statistik dengan Diagram Garis

Pernahkah Anda memperhatikan diagram Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di televisi atau koran? Diagram tersebut merupakan salah satu contoh diagram garis. Diagram garis biasanya digunakan untuk menyajikan data statistik yang diperoleh berdasarkan pengamatan dari waktu ke waktu secara berurutan.

Untuk menggambar diagram garis diperlukan dua sumbu, yaitu sumbu tegak (vertikal) dan sumbu datar (horizontal). Sumbu datar untuk menyatakan waktu, sedangkan sumbu tegak untuk menyatakan kuantitasnya (nilai, jumlah, biaya, pendapatan, dan sebagainya). Kemudian, gambarkan setiap titik koordinat yang menunjukkan data pengamatan pada waktu t. Terakhir, hubungkanlah titik-titik ini dengan garis lurus. Dari diagram tersebut dapat ditemukan pola atau kecenderungan gerak nilai yang diamati mengikuti waktu. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh soal berikut.

Contoh soal:

a). Sebuah dealer mobil sejak tahun 1995 hingga akhir tahun 2004 selalu mencatat jumlah mobil yang terjual setiap tahun sebagai berikut.
Buatlah diagram garis untuk data tersebut.

b). Sebuah perusahaan yang memproduksi barang elektronik mencatat akumulasi biaya produksi tahunan dan akumulasi nilai penjualan selama sepuluh tahun dari tahun 1995 sampai dengan 2004 sebagai berikut (dalam jutaan rupiah).
Buatlah diagram garis untuk data tersebut.

Penyelesaian:

a. Dengan menggunakan cara yang telah dijelaskan, diagram garis untuk data tersebut adalah sebagai berikut.

Diagram garis dari mobil yang terjual dari tahun 1995 - 2004
Dari diagram tersebut, tampak penjualan mobil terbanyak pada tahun 2001. Dari tahun 1995–1997, penjualan mobil cenderung mengalami kenaikan dan tahun 2002–2004 cenderung mengalami penurunan.

b. Diagram garis untuk akumulasi biaya produksi dan akumulasi nilai penjualan adalah sebagai berikut.
Diagram garis dari akumulasi nilai penjualan dan akumulasi nilai produksi
Dari gambar di atas Anda dapat mengetahui bahwa perusahaan mulai memperoleh laba (keuntungan) di antara tahun 1999 dan 2000, yaitu pada saat kedua garis berpotongan. Titik potong kedua garis tersebut disebut titik pulang pokok (break event point).

Diagram di atas yang pertama merupakan diagram garis tunggal. Adapun diagram kedua disebut diagram garis majemuk, yaitu dalam satu gambar terdapat lebih dari satu garis. Diagram garis majemuk biasanya digunakan untuk membandingkan dua keadaan atau lebih yang mempunyai hubungan, misalnya diagram dua garis yang melukiskan akumulasi biaya produksi dan akumulasi nilai penjualan setiap tahun selama sepuluh tahun. Diagram garis biasanya digunakan untuk menaksir atau memperkirakan data berdasarkan pola-pola yang telah diperoleh. 

Demikianlah artikel tentang "Penyajian Data Statistik dengan Diagram Garis". Artikel ini diringkas dari buku-buku BSE yang diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Kemdikbud dan dapat diunduh secara gratis di BSE Kemdikbud.

Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari

Pada pembahasan sebelumnya kita telah mengetahui bahwa Bulan merupakan satelit Bumi dan Matahari merupakan satu-satunya benda di tata surya yang dapat memancarkan cahaya sendiri. Nah, jika cahaya dari Matahari tertutup oleh Bulan atau oleh Bumi maka terjadi gerhana. Gerhana ada dua jenis yaitu gerhana Matahari dan gerhana Bulan.

Gerhana Bulan

Gerhana Bulan dapat terjadi jika Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus dan Bumi berada di tengah-tengahnya. Akibatnya bayang-bayang Bumi mengenai Bulan, artinya cahaya Matahari yang menuju Bulan pada malam hari terhalang oleh bulatan Bumi.

Gerhana Bulan sempurna terjadi jika Bulan lewat tepat pada ujung kerucut bayangan pusat (umbra) tetapi kalau Bulan hanya lewat daerah samping bayangan (penumbra) maka yang terjadi adalah gerhana Bulan sebagian.

Diameter Bumi lebih besar dari diameter Bulan. Seluruh bulatan Bulan akan tertutup oleh bulatan Bumi sehingga ketika peristiwa gerhana Bulan, seluruh permukaan Bumi yang saat itu terjadi malam hari akan mengalami gerhana Bulan yang berlangsung lebih kurang dalam rentang waktu 1 jam 40 menit.
Gerhana Bulan (Sumber: Jendela Iptek; Astronomi, 1997)
Gerhana Matahari 

Gerhana Bulan dapat terjadi jika Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus dan Bulan berada di tengah-tengahnya. Akibatnya bayang-bayang Bulan mengenai Bumi, dimana cahaya Matahari yang menuju Bumi pada siang hari terhalang bulatan Bulan. 

Di suatu tempat di Bumi jika Bulan tampak menghalangi Matahari sepenuhnya maka terjadi gerhana Matahari total. Sedangkan di tempat lain bila Bulan hanya menghalangi sebagian Matahari maka terjadi gerhana Matahari sebagian. 

Oleh karena diameter Bulan tidak lebih besar dari diameter Bumi, maka gerhana Matahari hanya terjadi pada sebagian kecil permukaan Bumi dan berlangsung lebih kurang 7 menit.
Gerhana Matahari (Sumber: Grolier Science Library; Space, 2004)
Gerhana seperti ini tidak hanya terjadi di permukaan Bumi saja. Di planet Mars juga pernah terjadi gerhana Matahari, di mana Matahari tertutup oleh satelitnya, yaitu Phobos dan Deimos. Selengkapnya mengenai gerhana di Mars silakan baca "Inilah Gerhana Matahari di Planet Mars".

Demikianlah artikel tentang “Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari”. Artikel ini diringkas dari buku-buku BSE yang diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Kemdikbud dan dapat diunduh secara gratis di BSE Kemdikbud.

Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Asteroid, Meteor, Komet, dan Satelit di Sistem Tata Surya

Setelah membahas tentang planet-planet di sistem tata surya, kali ini kita akan membahasa anggota tata surya selain planet. Anggota-anggota tata surya selain planet di antaranya adalah asteroid, komet, meteor, dan satelit (pengiring planet). Nah, di artikel ini akan di bahas satu-persatu dari anggota tata surya selain planet.
Dari kiri: Asteroid, Komet, Bulan, Hujan Meteor (Sumber gambar: NASA)
Asteroid

Asteroid (Sumber: NASA)
Asteroid merupakan planet berbatu yang kecil dengan jumlah yang sangat banyak. Dalam Tata Surya terdapat beribu-ribu asteroid yang juga mengelilingi Matahari. Sebagian besar kelompok asteroid dijumpai berada di antara orbit planet Mars dan Yupiter. Daerah ini dikenal sebagai Sabuk Utama (Main Belt). Selain asteroid yang mendiami daerah Sabuk Utama, ada pula kelompok asteroid dengan orbit yang berbeda, seperti kelompok Trojan dan kelompok asteroid AAA (Triple A Asteroids-Amor, Apollo, Aten).

Beberapa asteroid yang telah diidentifikasi antara lain Ceres merupakan asteroid terbesar yang juga masuk kategori planet kerdil/planet katai dengan diameter 780 km, Pallas 560 km, Vesta 490 km, Hygeva 388 km, Juno 360 km, dan Davida 272 km.

Meteor

Hujan Meteor (Sumber: NASA)
Meteor adalah benda angkasa berupa pecahan batuan angkasa yang jatuh dan masuk ke dalam atmosfer bumi. Ketika meteor masuk ke dalam atmosfer bumi maka akan terjadi gesekan dengan udara sehingga benda tersebut akan menjadi panas dan terbakar. Meteor yang tidak habis terbakar di atmosfer bumi dan sampai ke permukaan bumi disebut meteorit. Tumbukan meteorit berukuran besar pada permukaan bumi seringkali menimbulkan lubang besar di permukaan bumi yang disebut kawah meteorit, contohnya Kawah Meteorit Arizona di Amerika Serikat yang lebarnya sekitar 1.265 m.

Komet

Komet (Sumber: NASA)
Komet merupakan anggota tata surya yang terdiri atas pecahan benda angkasa, es, dan gas yang membeku. Komet mengorbit matahari dalam suatu lintasan yang berbentuk elips. Strukturnya terdiri atas kepala dan ekor komet. Kepala komet berdiameter lebih dari 65.000 km meliputi inti dan koma.

Salah satu komet yang terkenal adalah komet Halley. Komet ini ditemukan oleh Edmond Halley. Rata-rata periode munculnyaorbit komet Halley terjadi setiap 76–79 tahun sekali. Komet Halleyterakhir terlihat pada tahun 1986 dan diperkirakan akan tampak kembali pada tahun 2061. Inti atau pusat dari komet Halley sangatlah gelap dengan diameter kurang lebih 1.024 km. Selain komet Halley terdapat beberapa nama komet lainnya, seperti komet Hyakutake dan Hale-Bopp.

Satelit

Satelit merupakan pengiring planet. Satelit beredar mengelilingi planet dan bersama-sama beredar mengelilingi Matahari. Satelit juga berotasi mengelilingi sumbunya sendiri. Pada umumnya, arah rotasi dan revolusi satelit sama dengan arah rotasi dan revolusi planetnya yaitu dari barat ke timur kecuali satelit planet Neptunus. Planet yang telah diketahui tidak memiliki satelit adalah Merkurius dan Venus. Berikut ini adalah nama-nama satelit beserta jumlahnya untuk masing-masing planet:
Bulan merupakan satu-satunya satelit Bumi. Diameter bulan lebih kurang 3.476 km atau sekitar 1/4 diameter bumi, jarak rata-ratanya ke bumi sekitar 384.000 km. Periode revolusi bulan terhadap bumi sekitar 29,5 hari, sedangkan periode rotasinya sama dengan revolusinya, yaitu 29,5 hari.

Bulan (Sumber: NASA)
Bulan mengelilingi bumi dalam jangka waktu satu bulan. Pergerakan Bulan dari waktu ke waktu menyebabkan terjadinya perubahan sudut yang dibentuk oleh garis yang menghubungkan antara Matahari, Bumi, dan Bulan. Perubahan sudut tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan penampakan Bulan jika dilihat dari Bumi yang disebut fase bulan. Jika Bulan berada pada posisi terdekat ke Matahari, bagian Bulan yang menghadap ke Bumi akan tampak gelap, keadaan seperti itu disebut fase bulan baru. Sementara Bulan melanjutkan pergerakannya mengitari Bumi, tampak Bulan berubah pula menjadi fase bulan sabit, lalu bulan setengah, bulan tiga perempat, kemudian menjadi bulan purnama. Setelah tercapai fase purnama, fase berikutnya adalah kebalikannya sampai pada akhirnya terjadi fase gelap atau bulan baru kembali.

Demikianlah artikel tentang “Asteroid, Meteor, Komet, dan Satelit di Sistem Tata Surya”. Artikel ini diringkas dari buku-buku BSE yang diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Kemdikbud dan dapat diunduh secara gratis di BSE Kemdikbud. Gambar-gambar dari NASA berada di domain publik di mana kebijakan hak cipta NASA mengatakan bahwa “Materi dari NASA tidak dilindungi undang-undang kecuali tercatat di dalamnya".

Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Planet-Planet di Sistem Tata Surya

Planet adalah benda angkasa yang tidak memiliki cahaya sendiri dan selalu beredar mengelilingi sebuah bintang. Di tata surya ada delapan planet yang mengelilingi Matahari, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Kebanyakan planet di tata surya memiliki satelit (pengiring) misalnya Bulan sebagai pengiring Bumi.
Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars (Sumber: NASA)
Dahulu Pluto merupakan sebuah planet dan jumlah planet terdapat sembilan planet namun sekarang hanya delapan planet yang dikenal. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Sidang Umum Perkumpulan Astronomi Internasional (International Astronomical Union/IAU) ke-26 yang berlangsung di Praha, Republik Ceko, pada tanggal 25 Agustus 2006 telah memutuskan beberapa keputusan yang penting, di antaranya adalah resolusi 5A yang berisi mengenai definisi sebuah planet. Nah berikut ini adalah definisi planet yang dihasilkan dari sidang umum tersebut:
  1. Berada dalam suatu orbit yang mengelilingi Matahari.
  2. Mempunyai berat yang cukup untuk gravitasi dirinya dalam mengatasi tekanan rigid supaya ia menjadi satu ekuilibrium hidrostatik (bentuk hampir bulat).
  3. Merupakan objek yang dominan dalam orbitnya sendiri.
Pluto tidak memenuhi syarat sebagai sebuah planet karena Pluto memiliki orbit yang tumpang tindih dengan Neptunus. Hal ini menunjukkan Pluto sebagai sebuah objek yang tidak dominan di orbitnya sendiri. Pluto yang telah menyandang status planet sejak ditemukan oleh Clyde Tombaugh pada tahun 1930, akhirnya harus kehilangan status sebagai sebuah planet. Pluto akhirnya berubah statusnya sebagai planet kerdil/planet katai (dwarf planet).

Klasifikasi Planet

Berdasarkan massanya planet dibagi menjadi dua jenis, yaitu planet superior (bermassa besar) dan planet inferior (bermassa kecil). Planet superior terdiri atas Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Sementara planet inferior terdiri atas Merkurius, Venus, Mars, dan Bumi.

Berdasarkan jaraknya terhadap Matahari planet dibagi menjadi dua jenis, yaitu planet dalam (interior) dan planet luar (eksterior). Planet dalam yaitu planet yang jarak rata-ratanya ke Matahari lebih dekat dari jarak-rata-rata Bumi ke Matahari. Berdasarkan definisi tersebut, maka yang masuk planet dalam yaitu Merkurius dan Venus. Sementara planet luar adalah planet yang jarak-rata-ratanya ke Matahari lebih jauh dari jarak rata-rata Bumi ke Matahari. Berdasarkan definisi itu, planet luar adalah Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Deskripsi Planet

1. Merkurius

Merkurius (Sumber: NASA)
Merkurius merupakan planet terdekat dengan Matahari. Kedekatan ini mengakibatkan suhu udara siang hari menjadi sangat panas, mencapai 400° C, sedangkan pada malam hari menjadi sangat dingin, mencapai -2000° C. Perbedaan suhu harian yang sangat besar disebabkan Merkurius tidak memiliki atmosfer. Jarak antara Matahari dengan Merkurius kurang lebih 57 juta km. Sedangkan jarak dengan Bumi sekitar 92 juta km. Ukurannya hanya 27% dari ukuran Bumi. Merkurius memiliki ukuran paling kecil dalam sistem tata surya, garis tengahnya hanya 4.850 km hampir sama ukurannya dengan bulan yang memiliki diameter sekitar 3.476 km. Planet ini beredar mengelilingi matahari dalam suatu orbit eliptis(lonjong) dengan periode revolusinya sekitar 88 hari, dan periode rotasinya sekitar 59 hari.

2. Venus

Venus (Sumber: NASA)
Planet terdekat kedua dari Matahari adalah Venus. Salah satu yang khas dari planet ini adalah adanya awan tebal yang menyelimutinya. Awan itu membuat cahaya Matahari terpantulkan. Akibatnya, Venus menjadi planet yang paling terang. Cahayanya akan tampak pada waktu Matahari terbit dan tenggelam. Oleh karenanya, planet ini sering disebut sebagai Bintang Fajar atau Bintang Senja. Venus juga merupakan planet yang paling dekat dengan Bumi. Jarak Venus dengan matahari sekitar 108 juta kilometer. Pada siang hari suhu Venus mencapai 477° C, sedangkan pada malam hari suhunya tetap tinggi karena panas yang diterimanya tertahan atmosfer planet tersebut. Diameter Venus sekitar 12.140 km. periode rotasinya sekitar 244 hari dengan arah sesuai jarum jam dan periode revolusinya sekitar 225 hari.
    3. Bumi

    Bumi (Sumber: NASA)

    Bumi merupakan planet yang berada pada urutan ketiga dari Matahari. Jarak rata-ratanya ke Matahari sekitar 150 juta km. Periode revolusinya sekitar 365,25 hari dan periode rotasinya sekitar 23 jam 56 menit dengan arah barat-timur. Bumi memiliki satu satelit yang selalu beredar mengelilingi bumi, yaitu Bulan (The Moon). Diameter Bumi sekitar 12.756 km hampir sama dengan diameter Venus. Penjelasan mengenai Bumi akan dibahas pada artikel tersendiri.

    4. Mars 

    Mars (Sumber: NASA)
    Mars merupakan Planet Luar (eksterior planet) yang paling dekat ke Bumi. Planet ini tampak sangat jelas dari bumi setiap 2 tahun 2 bulan sekali, yaitu pada kedudukan oposisi. Pada saat itu jaraknya hanya sekitar 56 juta km dari bumi. Pada malam hari kadang kita melihat sebuah ”bintang”cemerlang yang bercahaya kemerahan. Itulah Mars atau planet merah. Planet ini memiliki diameter kira-kira 6.800 km atau sekitar setengah diameter Bumi. Masa rotasi Mars adalah 24 jam 37 menit dan masa revolusinya 687 hari. Mars memiliki dua buah satelit, yaitu Deimos dan Phobos, temperaturnya lebih rendah dibandingkan dengan temperatur di Bumi.

    5. Yupiter

    Yupiter (Sumber:NASA)
    Yupiter merupakan planet terbesar dalam sistem tata surya di tata surya, diameternya sekitar 142.600 km, terdiri atas materi dengan tingkat kerapatannya rendah, terutama hidrogen dan helium. Jarak rata-ratanya ke matahari sekitar 778 juta km, berotasi pada sumbunya dengan sangat cepat sekitar 9 jam 50 menit, sedangkan periode revolusinya sekitar 11,9 tahun. Letaknya yang jauh dari Matahari mengakibatkan suhu di permukaannya sangat rendah, kira-kira -130° C bahkan mungkin lebih rendah dari itu. Planet Yupiter memiliki satelit yang jumlahnya paling banyak, yaitu sekitar 13 satelit, di antaranya terdapat beberapa satelit yang ukurannya besar, seperti Ganimedes, Calisto, Galilea, Io, dan Europa.

    6. Saturnus

    Saturnus (Sumber: NASA)
    Saturnus merupakan planet terbesar kedua setelah Yupiter, diameternya sekitar 120.200 km. Periode rotasinya sekitar 10 jam 14 menit dan revolusinya sekitar 29,5 tahun. Planet ini memiliki tiga cincin tipis yang arahnya selalu sejajar dengan ekuatornya, yaitu Cincin Luar, Cincin Tengah, dan Cincin Dalam. Diameter Cincin Luar Planet Saturnus adalah sekitar 273.600 km, Cincin Tengah sekitar 152.000 km, dan Cincin Dalam memiliki diameter sekitar 160.000 km. Antara Cincin Dalam dan permukaan Saturnus dipisahkan ruang kosong berjarak sekitar 11.265 km. Planet Saturnus memiliki atmosfer yang sangat rapat terdiri atas hidrogen, helium, metana, dan amoniak. Planet ini memiliki satelit yang jumlahnya sekitar 11 satelit, di antaranya Titan, Rhea, Thetys, dan Dione.

    7. Uranus

    Uranus (Sumber: NASA)
    Planet Uranus memiliki diameter 49.000 km, hampir empat kali lipat dari diameter bumi. Periode revolusinya sekitar 84 tahun, sedangkan rotasinya sekitar 10 jam 49 menit. Berbeda dengan planet lainnya, sumbu rotasi pada Planet Uranus searah dengan arah datangnya sinar matahari sehingga kutubnya seringkali menghadap ke arah matahari. Atmosfer Uranus dipenuhi oleh hidrogen, helium, dan metana. Di luar batas atmosfer Planet Uranus terdapat lima satelit yang mengelilinginya, yaitu Miranda, Ariel, Umbriel, Titania, dan Oberon. Jarak rata-rata Planet Uranus ke matahari sekitar 2.870 juta km. Planet Uranus merupakan planet bercincin, ketebalan cincinnya sekitar satu meter terdiri atas partikel-partikel gas yang sangat tipis dan redup.

    8. Neptunus

    Neptunus (Sumber: NASA)
    Neptunus merupakan planet superiordengan diameter 50.200 km. Jarak rata-ratanya ke matahari sekitar 4.497 juta km. Periode revolusinya sekitar 164,8 tahun, sedangkan periode rotasinya sekitar 15 jam 48 menit. Atmosfer Neptunus dipenuhi oleh hidrogen, helium, metana, dan amoniak yang lebih padat jika dibandingkan dengan Yupiter dan Saturnus. Satelit yang beredar mengelilingi Neptunus ada dua, yaitu Tritondan Nereid. Planet Neptunus memiliki dua cincin utama dan dua cincin redup di bagian dalam yang memiliki lebar sekitar 15 km.

    Planet Kerdil (Planet Katai)

    Selain mendefinisikan sebuah planet, hasil resolusi IAU yang berlangsung di Praha juga mendefinisikan tentang "dwarf planet" atau planet kerdil/planet katai. Syarat-syarat pendefinisian "dwarf planet" hampir sama dengan definisi planet. Namun, yang membedakan adalah planet kerdil bukan benda dominan pada orbitnya serta bukan satelit (benda angkasa yang mengorbit planet). Pluto yang dahulunya masuk dalam deretan planet di tata surya, statusnya diubah sebagai planet kerdil. Bersamaan dengan Pluto ada beberapa objek yang dikategorikan sebagai planet kerdil, yaitu Ceres, Haumea, Makemake, dan Eris. Selengkapnya mengenai deskripsi Planet kerdil silakan baca “Planet-Planet Katai (Kerdil) di Tata Surya”.

    Perbandingan Ukuran Planet Katai dan Bumi
    Sumber: Wikimedia Commons (dengan perubahan)
    Demikianlah artikel tentang “Planet-Planet di Sistem Tata Surya”. Artikel ini diringkas dari buku-buku BSE yang diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Kemdikbud dan dapat diunduh secara gratis di BSE Kemdikbud. Gambar-gambar dari NASA berada di domain publik di mana kebijakan hak cipta NASA mengatakan bahwa “Materi dari NASA tidak dilindungi undang-undang kecuali tercatat di dalamnya".

    Terima kasih dan semoga bermanfaat.

    Matahari sebagai Pusat Tata Surya

    Matahari adalah salah satu bintang di dalam Galaksi Bima Sakti yang memiliki fungsi dan peranan paling penting di dalam struktur tata surya. Matahari merupakan bagian dari tata surya yang memiliki ukuran, massa, volume, temperatur, dan gravitasi yang paling besar sehingga matahari memiliki pengaruh yang sangat besar pula terhadap benda-benda angkasa yang beredar mengelilinginya.

    Matahari (Sumber: NASA)
    Matahari memiliki garis tengah sekitar 1.392.000 km atau sekitar 109 kali garis tengah Bumi. Massa atau berat totalnya sekitar 332.000 kali dari berat Bumi, volumenya diperkirakan 1.300.000 kali volume Bumi, dan temperatur di permukaannya antara 5.000° C – 6.000° C, sedangkan temperatur di pusatnya antara 14.000.000° C - 15.000.000° C. Jarak Matahari ke Bumi sekitar 150 juta kilometer. Jarak Matahari ke Bumi disebut satu satuan astronomi (1 sa). Waktu yang dibutuhkan oleh sinar Matahari untuk sampai ke Bumi 8,33 menit.

    Walaupun Matahari berukuran 109 kali Bumi, namun Matahari masih termasuk bintang yang kecil. Masih ada bintang-bintang lain di jagat raya ini yang lebih besar dari Matahari, bahkan hingga ratusan kali ukuran Matahari.

    Struktur Matahari

    Matahari terdiri atas bagian inti dan lapisan kulit. Bagian kulit Matahari terdiri atas lapisan fotosfer dan atmosfer. Di atas fotosfer terdapat lapisan atmosfer yang terdiri dari lapisan kromosfer dan korona.

    A. Inti Matahari (Barisfer)

    Struktur Matahari (Sumber: NASA)
    Inti Matahari adalah bagian dari matahari yang letaknya paling dalam, berdiameter sekitar 500.000 km dengan tingkat temperatur sekitar 15.000.000° C. Pada bagian ini berlangsung reaksi inti yang menyebabkan terjadinya sintesis hidrogen menjadi helium dengan karbon sebagai katalisatornya.

    B. Fotosfer Matahari

    Fotosfer Matahari adalah lapisan berupa bulatan berwarna perak kekuning-kuningan yang terdiri atas gas padat bersuhu tinggi. Dari sinilah datangnya sinar matahari yang dapat kita lihat dari Bumi. Pada fotosfer matahari terlihat adanya bintik atau noda hitam berdiameter sekitar 300.000 km. Bahkan ada yang berdiameter lebih besar dari diameter bumi dengan kedalaman sekitar 800 km disebut umbra. Di sekeliling umbra, biasanya terdapat lingkaran lebih terang disebut penumbra. Noda-noda hitam pada matahari secara keseluruhan disebut sun spots.

    C. Atmosfer Matahari
    Atmosfer Maahari adalah lapisan paling luar dari Matahari yang berbentuk gas, terdiri atas dua lapisan, yaitu kromosfer dan korona. Kromosfer dan korona Matahari dalam keadaan normal idak dapat terlihat dengan jelas karena tingkat terangnya lebih rendah dari fotosfer. Kromosfer dan korona Matahari dapat terlihat di saat Matahari tertutup oleh Bulan atau sering kita sebut dengan gerhana matahari.
    1. Kromosfer, yaitu lapisan atmosfer matahari bagian bawah yang terdiri atas gas yang renggang berwarna merah dengan ketebalan sekitar 10.000 km. Lapisan gas ini merupakan lapisan yang paling dinamis karena seringkali muncul tonjolon cahaya berbentuk lidah api yang memancar sampai ketinggian lebih dari 200.000 km yang disebut prominensa (protuberans).
    2. Korona adalah lapisan atmosfer matahari bagian atas yang terdiri atas gas yang sangat renggang dan berwarna putih atau kuning kebiruan, serta memiliki ketebalan mencapai ribuan kilometer.

    Pergerakan Matahari

    Matahari tidaklah berada dalam keadaan statis, akan tetapi selalu bergerak dinamis baik individu maupun secara sistem. Adapun gerakan matahari secara garis besar terdiri atas gerak rotasi dan revolusi Matahari.

    A. Rotasi Matahari

    Rotasi Matahari, Bumi, dan Bulan
    Rotasi Matahari adalah gerakan Matahari berputar pada sumbunya. Matahari mengalami perputaran pada sumbunya dari barat ke timur dengan kecepatan yang tidak sama. Beberapa bagian berputar lebih cepat dari bagian yang lain. Bagian ekuator Matahari berotasi sekitar 25,5 hari dan sekitar 27 hari di bagian kutub Matahari untuk satu kali putaran. Perputaran Matahari pada sumbunya memiliki arah yang sama dengan arah perputaran Bumi dan Bulan yangmengelilingi sumbunya masing-masing dan searah pula dengan peredaran Bumi mengelilingi Matahari dan Bulan mengelilingi Bumi.

    B. Revolusi Matahari

    Revolusi Matahari adalah gerakan Matahari beserta anggota-anggotanya mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti.

    Unsur-Unsur Matahari

    Hidrogen merupakan unsur utama Matahari dengan massa lebih dari 80%. Unsur kedua adalah Helium sejumlah 19%. Sementara 1% massa lainnya terdiri dari unsur-unsur oksigen, magnesium, nitrogen, silikon, karbon, belerang, besi, natrium, kalsium, nikel, dan beberapa unsur mikro lainnya.

    Matahari merupakan campuran dari atom-atom gas, inti-inti atom, dan partikel-partikel atom, seperti elektron, proton, dan neutron, positron, dan neutrino. Seluruh massa Matahari berbentuk gas panas yang disebut plasma.

    Peranan Matahari bagi Kehidupan di Bumi

    Matahari merupakan benda angkasa yang memiliki cahaya sendiri. Oleh karena itu, matahari memiliki peranan sangat penting, antara lain sebagai sumber cahaya dan panas bagi planet-planet di sekitarnya, termasuk Bumi, sehingga dapat berlangsung kehidupan manusia, tumbuhan, dan hewan di Bumi. Selain sebagai sumber panas dan cahaya, matahari memiliki peranan, sebagai pengatur iklim dan cuaca sehingga memungkinkan terjadinya variasi kehidupan di muka bumi.

    Sekian artikel mengenai “Matahari sebagai Pusat Tata Surya” ini. Artikel ini diringkas dari buku-buku BSE yang diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Kemdikbud dan dapat diunduh secara gratis di BSE Kemdikbud. Gambar-gambar dari NASA berada di domain publik di mana kebijakan hak cipta NASA mengatakan bahwa “Materi dari NASA tidak dilindungi undang-undang kecuali tercatat di dalamnya".

    Tata Surya dan Teori Terbentuknya

    Tata surya atau sistem Matahari (dalam bahasa Inggris disebut Solar System) adalah suatu sistem yang terdapat di jagat raya terdiri atas Matahari sebagai pusatnya, planet-planet (termasuk Planet Bumi), satelit-satelit (misalnya Bulan), asteroid, komet, meteor, debu, kabut, dan benda-benda lainnya sebagai anggota dari tata surya yang beredar mengelilingi pusatnya, yakni matahari pada orbit atau garis edarnya masing-masing. Dari benda-benda di tata surya, benda yang memancarkan cahayanya sendiri hanyalah Matahari sedangkan benda lainnya hanya memantulkannya.
    Tata Surya (Sumber: NASA)
    Nah, sekarang pertanyaannya adalah bagaimana tata surya terbentuk? Manusia sudah meneliti bagaimana tata surya terbentuk sejak zaman dahulu. Beberapa teori telah diajukan oleh para ahli untuk menjelaskan pembentukan tata surya. Namun, sampai sekarang belum ada satu pun teori yang memberi jawaban yang benar-benar memuaskan. Berikut ini adalah beberapa teori tentang pembentukan tata surya.

    1. Teori Kabut/Nebula

    Teori Nebula
    Teori ini mengatakan bahwa anggota tata surya awalnya berbentuk massa gas raksasa yang bersuhu tinggi dan berputar perlahan-lahan. Massa ini berangsur-angsur mendingin, mengecil, dan mendekati bentuk bola. Rotasi massa ini semakin lama semakin tinggi. Akibatnya, bagian tengah massa itu menggelembung. Akhirnya, lingkaran materi itu terlempar keluar. Lingkaran ini mendingin, mengecil, dan akhirnya menjadi planet.

    Planet ini tetap mengorbit mengelilingi inti massa. Lalu, lingkaran lain terlempar dan terlempar lagi dari pusat massa dan menjadi seluruh planet, termasuk Bumi. Akhirnya, semua planet terbentuk. Pusat massa menjadi Matahari kita. Selanjutnya, planet-planet itu juga melemparkan massa keluar angkasa dan berubah menjadi satelit atau bulan.

    Teori Nebula dikemukakan pada abad ke-18 oleh Immanuel Kant (1724–1804) yang kemudian diperkuat oleh Pierre Simon de Laplace (1749–1827). Meskipun keduanya tidak saling mengenal namun pendapat Laplace merupakan penjelasan dari pendapat Kant. Sehingga teori Nebula ini disebut juga dengan teori Kant-Laplace.

    2. Teori Planetesimal 

    Teori Planetesimal
    Teori ini menyatakan bahwa suatu ketika sebuah bintang melintasi ruang angkasa dengan cepat dan berada dekat sekali dengan Matahari. Daya tarik bintang ini sangat besar sehingga menyebabkan pasang di bagian gas panas Matahari. Akibatnya, massa gas terlempar dari Matahari dan mulai mengorbit. Karena daya tarik Matahari, massa gas itu tertahan dan bergerak mengelilingi Matahari. Massa gas yang terlempar inilah yang disebut dengan planetesimal. 

    Ketika massa gas menjadi dingin, bentuknya berubah menjadi cairan kemudian memadat. Akhirnya, massa gas itu menjadi planet yang ada sekarang. 

    Teori planetesimal dikemukakakan pada sekitar tahun 1900 oleh seorang astronom bernama Forest Ray Moulton dan seorang ahli geologi bernama T.C. Chamberlain dari Universitas Chicago. 

    3. Teori Tidal/Pasang Surut 

    Teori Pasang Surut
    Teori ini awalnya hampir sama dengan teori planetesimal, yaitu terdapat sebuah bintang yang bergerak mendekati Matahari lalu gas asli matahari tertarik oleh bintang tersebut. Perbedaan dengan teori planetesimal adalah bahwa pada teori ini planet tidak terbentuk oleh planetesimal. Planet-planet terbentuk langsung oleh gas asli Matahari tersebut. 

    Teori ini disusun pada tahun 1918 oleh Sir James Jeans dan Sir Harold Jeffreys dari Inggris. Teori ini juga didasarkan atas ide benturan. Berbeda dengan Moulton dan Chamberlain, kedua ilmuwan itu tidak percaya bahwa planet berasal dari sejumlah benda alam kecil-kecil atau planetesimal. Mereka berpendapat bahwa planet itu langsung terbentuk dari massa gas asli yang ditarik dari matahari oleh bintang yang lewat. 

    4. Teori Bintang Kembar

    Teori Bintang Kembar
    Teori ini mengemukakan bahwa awalnya Matahari merupakan bintang kembar yang satu dengan lainnya saling mengelilingi. Pada suatu masa, melintas bintang lain dan menabrak salah satu bintang kembar tersebut kemudian menghancurkannya menjadi bagian-bagian kecil yang terus berputar dan mendingin menjadi planet-planet yang mengelilingi bintang yang tetap bertahan, yaitu Matahari. 

    Teori Bintang Kembar ini dikemukakan oleh seorang astronom berkebangsaan Inggris yang bernama Lyttleton (1930). Teori ini merupakan modifikasi dari teori benturan yang telah ada sebelumnya. Dalam beberapa hal, teori ini memberikan penjelasan yang lebih baik tentang asal Tata Surya berdasarkan teori benturan. 

    5. Teori Awan Debu

    Teori Awan Debu
    Teori ini menyatakan bahwa tata surya berasal dari awan yang sangat luas yang terdiri dari debu dan gas (hidrogen dan helium). Adanya ketidakteraturan dalam awan tersebut menyebabkan terjadinya penyusutan karena gaya tarik menarik dan gerakan perputaran yang sangat cepat dan teratur sehingga terbentuklah piringan seperti cakram. Inti cakram yang menggelembung kemudian menjadi Matahari, sedangkan bagian pinggirnya berubah bentuk menjadi planet-planet. 

    Teori ini dikemukakan oleh Von Weizsaecker(1945) dan G.P. Kuiper(1950). Jika ditinjau dari prosesnya, teori ini seperti pengembangan dari teori Nebula. Ahli astronomi lainnya yang mengemukakan teori awan debu antara lain F.L Whippel dari Amerika Serikat dan Hannes Alven dari Swedia. Menurut mereka pada mulanya Matahari berputar dengan cepat dengan piringan gas di sekelilingnya. 

    Teori-teori di atas hanyalah sedikit dari banyak teori yang telah diajukan para ahli tentang terjadinya Bumi. Tidak satu pun di antara teori tersebut yang dianggap benar-benar memuaskan dan dapat diterima secara luas oleh seluruh dunia. Masing-masing teori ini mempunyai kelebihan dan kelemahan.

    Artikel di atas diringkas dari buku-buku BSE yang diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Kemdikbud dan dapat diunduh secara gratis di BSE Kemdikbud. Gambar-gambar dari NASA berada di domain publik di mana kebijakan hak cipta NASA mengatakan bahwa “Materi dari NASA tidak dilindungi undang-undang kecuali tercatat di dalamnya".


    Anggota Alam Semesta: Galaksi dan Bintang

    Pada pembahasan “Alam Semesta dan Teori Terbentuknya” telah disebutkan bahwa planet, bintang, galaksi, meteor, asteroid, gas, debu, dan benda-benda lain adalah materi-materi yang mengisi jagat raya. Pada pembahasan kali ini akan diuraikan sekilas tentang galaksi dan bintang. Sementara anggota lainnya yang mengisi jagat raya akan dibahas pada artikel-artikel lainnya.

    Galaksi

    Galaksi atau Gugusan Bintang adalah kumpulan bintang yang membentuk suatu sistem, terdiri atas satu atau lebih benda angkasa yang berukuran besar dan dikelilingi oleh benda-benda angkasa lainnya sebagai anggotanya yang bergerak mengelilinginya secara teratur. Galaksi tersusun secara menggerombol dan tiap-tiap anggota galaksi memiliki gaya tarik-menarik (gravitasi).
    Galaksi Messier, salah satu galaksi berbentuk spiral (Sumber: NASA)
    Galaksi memiliki beberapa bentuk yaitu spiral, elips, dan tidak beraturan.
    1. Galaksi spiral merupakan galaksi yang paling umum dikenal. Bagian utama galaksi spiral adalah halo, bidang galaksi (lengan spiral), dan bulge (bagian pusat yang menonjol).
    2. Galaksi elips merupakan galaksi yang bentuk penampakannya adalah elips namun tidak/belum diketahui bentuk sebenarnya.
    3. Galaksi tak beraturan merupakan galaksi yang memiliki bentuk tidak simetri aau tidak memiliki bentuk khusus.
    Beberapa galaksi yang telah dikenal dengan baik di antaranya adalah galaksi Andromeda, Magellan, dan galaksi di mana Matahari dan tata surya kita berada yaitu Bima Sakti atau dalam bahasa Inggris disebut Milky Way (Jalan Susu). Berikut ini penjelasan dari galaksi-galaksi tersebut:
      Galaksi Bima Sakti (Sumber: ESO)
    • Galaksi Bima Sakti
    Galaksi Bima Sakti terdiri atas 400 miliar bintang dengan garis tengah sekitar 130.000 tahun cahaya (1 tahun cahaya sama dengan 9500 miliar kilometer). Galaksi Bima Sakti merupakan adalah tempat di mana Matahari kita dan planet-planetnya berada. Galaksi ini merupakan galaksi berbentuk spiral dan selalu membentuk bintang baru setiap tahunnya.
    • Galaksi Magellan
    Galaksi Magellan merupakan galaksi yang paling dekat dengan galaksi Bima Sakti. Galaksi ini terletak sekitar 180 ribu tahun cahaya dari Bumi dan berada di belahan langit selatan. Galaksi ini memiliki bentuk tak beraturan.
    Galaksi Andromeda (Sumber NASA)
    • Galaksi Andromeda
    Galaksi Andromeda dikategorikan sebagai galaksi raksasa karena diameternya sekitar 200.000 tahun cahaya atau hampir dua kali lebih besar dari galaksi Bima Sakti. Bentuk galaksi ini adalah spiral sama dengan Galaksi Bima Sakti. Galaksi ini terletak sekitar 2,2 juta tahun cahaya dari Bumi.

    Berikut ini adalah daftar beberapa galaksi dan jaraknya dari Bumi:

    Bintang 

    Matahari (Sumber: NASA)
    Bintang adalah benda langit yang dapat memancarkan cahaya dan panas sendiri. Bintang terbentuk dari kabut debu dan gas yang sangat besar yang disebut nebula. Terbentuknya bintang diawali dengan penumpukan debu dan gas, karena adanya gaya yang kuat, sehingga mendorong debu dan gas menjadi bola raksasa. Debu dan gas yang terus menekan ke arah pusat bola menyebabkan naiknya suhu dan tekanan di pusat bola. Setelah beberapa waktu gas tersebut menjadi panas menyala dan terbentuklah bintang baru. 

    Matahari merupakan salah satu bintang yang merupakan pusat dari sistem tata surya. Nama-nama bintang lainnya, antara lain Polaris, Antares, Aldebaran, Sirius, Spica, Betelguese, Hidra, Pegasus, Phoenix, Carina, dan Vega. 

    Kelompok bintang-bintang yang membentuk pola tertentu dan letaknya berdekatan disebut Rasi Bintang atau Konstelasi Bintang. Contohnya, rasi bintang Pari (Crux) yang merupakan kumpulan dari empat bintang yang letaknya berdekatan, yakni Bintang Alfa, Beta, Gamma, dan Delta. Selain rasi bintang Crux, nama-nama rasi bintang lainnya, antara lain rasi bintang Orion, Centauri, Ursa Mayor, Lyra, dan Aquilla. 

    Di sekitar ekliptika yang seolah-olah melingkari bola langit terdapat 12 rasi bintang yang disebut Zodiak. Dua belas Rasi Bintang yang terdapat di sekitar ekliptika adalah Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricornus, Aquarius, dan Pisces.

    Artikel di atas diringkas dari buku-buku BSE yang diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Kemdikbud dan dapat diunduh secara gratis di BSE Kemdikbud. Gambar-gambar dari NASA berada di domain publik di mana kebijakan hak cipta NASA mengatakan bahwa “Materi dari NASA tidak dilindungi undang-undang kecuali tercatat di dalamnya". Sementara gambar dari ESO di atas berlisensi Creative Commons Atribusi Berbagi Serupa.

    Alam Semesta dan Teori Terbentuknya

    Kumpulan Galaksi/Cluster (Sumber: NASA)
    Alam Semesta atau Jagat Raya (The Universe) adalah suatu ruangan yang sangat besar, sangat luas, dan tanpa batas. Planet, bintang, galaksi, meteor, asteroid, gas, debu, dan benda-benda lain adalah materi-materi yang mengisi jagat raya.

    Proses terjadinya jagat raya merupakan salah satu misteri yang coba dipecahkan oleh umat manusia. Berikut ini adalah teori-teori yang menjelaskan proses pembentukan jagat raya

    Teori Ledakan Dahsyat (Big Bang)

    Big Bang (Sumber: NASA)
    Teori Ledakan Dahsyat (Big Bang) menyatakan bahwa pada mulanya terdapat sebuah massa yang sangat besar dan memiliki massa jenis yang juga sangat besar. Massa tersebut kemudian meledak dengan hebatnya karena adanya reaksi inti sehingga terbentuklah pecahan-pecahan massa yang berserakan dan mengembang begitu cepat serta menjauhi pusat ledakan. Pada waku yang sangat lama massa yang berserakan tersebut kemudian membentuk kelompok-kelompok yang pada akhirnya menjadi galaksi. 

    Teori “Big Bang” ini didukung oleh seorang astronom dari Amerika Serikat, yaitu Edwin Hubble. Berdasarkan pengamatan dan penelitian yang dilakukan, menunjukkan bahwa jagat raya ini tidak bersifat statis. Semakin jauh jarak galaksi dari Bumi, semakin cepat proses pengembangannya. Penemuan Hubble ini kemudian dikuatkan oleh Arno Pnezias dan Robert Wilson pada tahun 1965. Banyak sekali penelitian yang menguatkan teori ini. Semua teori mengesahkan bahwa pada masa dahulu langit dan Bumi pernah bersatu sebelum akhirnya terpisah-pisah seperti sekarang.

    Teori Keadaan Tetap

    Teori Keadaan Tetap menyatakan bahwa jagat raya akan selalu dalam keadaan yang sama. Alam semesta ini akan selamanya ada dan akan tetap ada atau dengan kata lain alam semesta ini tidak pernah bermula dan tidak akan berakhir. Setiap saat akan ada partikel yang lahir dan ada partikel yang lenyap. Dalam teori ”keadaan tetap”, kita harus menerima bahwa zat baru selalu diciptakan dalam ruang angkasa di antara berbagai galaksi, sehingga galaksi baru akan terbentuk guna menggantikan galaksi yang menjauh. Zat hidrogen akan selalu tercipta dari ketiadaan. Orang sepakat bahwa zat yang merupakan asal mula bintang dan galaksi tersebut adalah hidrogen.

    Teori Ekspansi

    Teori ini dikenal pula dengan nama Teori Mengembang dan Memampat (The Oscillating Theory). Menurut teori ini jagat raya terbentuk karena adanya suatu siklus materi yang diawali dengan massa ekspansi (mengembang) yang disebabkan oleh adanya reaksi inti hidrogen. Pada tahap ini terbentuklah galaksi-galaksi. Tahap ini diperkirakan berlangsung selama 30 miliar tahun. Selanjutnya, galaksi-galaksi dan bintang yang telah terbentuk akan meredup kemudian memampat didahului dengan keluarnya pancaran panas yang sangat tinggi. Setelah tahap memampat, maka tahap berikutnya adalah tahap mengembang dan kemudian pada akhirnya memampat lagi.

    Itulah beberapa teori terbentuknya Bumi. Sampai saat ini masih belum dapat dipastikan bagaimana jagat raya ini terbentuk. Teori-teori yang diungkapkan para ahli tersebut tentunya memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri.

    Artikel di atas diringkas dari buku-buku BSE yang diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Kemdikbud dan dapat diunduh secara gratis di BSE Kemdikbud. Gambar-gambar dari NASA berada di domain publik di mana kebijakan hak cipta NASA mengatakan bahwa “Materi dari NASA tidak dilindungi undang-undang kecuali tercatat di dalamnya".

    Sepertinya Anda menggunakan pemblokir iklan (ads blocker).

    Dukunglah blog ini dengan mematikan ads blocker di browser jika Anda menggunakannya atau mematikan mode penghematan data di browser opera.

    Terima kasih atas dukungannya.

    ×